Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Kesehatan

Penanganan DBD dengan Nyamuk Wolbachia Lebih Hemat Rupiah 200 Juta Dibandingkan Fogging, Kok Bisa?

5
×

Penanganan DBD dengan Nyamuk Wolbachia Lebih Hemat Rupiah 200 Juta Dibandingkan Fogging, Kok Bisa?

Sebarkan artikel ini
Penanganan DBD dengan Nyamuk Wolbachia Lebih Hemat Rupiah 200 Juta Dibandingkan Fogging, Kok Bisa?
Jaksel.id Penyebaran nyamuk wolbachia sedang jadi strategi terkini untuk menangani infeksi dengue atau demam berdarah di area Indoensia. Penanganan itu diadakan dengan menyebarkan nyamuk yang dimaksud di dalam wilayah dengan tindakan hukum DBD masih tinggi.

Direktur Jenderal Pencegahan lalu Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu memverifikasi bahwa penyebaran nyamuk wolbachia aman lantaran telah lama melalui proses penelitian yang mana panjang. Serta telah dilakukan terbukti dapat menurunkan tindakan hukum DBD hingga 77 persen di area Yogyakarta selama diadakan uji coba sejak 2016.

“Penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia telah melalui kajian kemudian analisis risiko dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia, kemudian hasilnya bagus. Sudah diujicobakan di tempat Yogyakarta sekitar 5-6 tahun lalu serta hasilnya sangat menggembirakan” kata Maxi di konferensi pers virtual pada Hari Jumat (24/11/2023).

Hasil kajian dan juga efektivitas itu kemudian dikirim ke Badan Kesejahteraan Bumi (WHO) lalu nyamuk wolbachia sekarang ini telah terjadi direkomendasikan oleh WHO pada pengendalian DBD.

Ilustrasi nyamuk Wolbachia. (Unsplash/Syed Ali)
Ilustrasi nyamuk Wolbachia. (Unsplash/Syed Ali)

Selain efektif, penyelenggaraan nyamuk wolbachia juga diklaim lebih lanjut hemat hingga banyak jt rupiah dibandingkan hanya sekali mengandalkan tindakan fogging.

Peneliti nyamuk wolbachia dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Adi Utarini mengungkapkan bahwa aktivitas fogging atau pengasapan di dalam Yogyakarta berkurang ekstrem sejak dilaksanakan penyebaran nyamuk wolbachia. Pengurangan fogging itu pada akhirnya menciptakan pengeluaran wilayah jadi berkurang.

“Karena tingginya kasus, fogging yang tersebut semula sanggup 200 kali dalam tahun 2022, tapi pada saat ini hanya saja 9 kali tahun ini. Penghematannya mampu sekitar 200-an juta, sehingga biayanya sanggup di tempat realokasi untuk hal lain,” ungkap Prof Adi.

Penghematan lainnya juga terjadi lantaran jumlah total pasien DBD yang tersebut rawat inap berkurang sampai 88 persen. Prof Adi mengatakan, hal yang dimaksud pada akhirnya juga berdampak terhadap pengaplikasian biaya BPJS.

Kasus DBD di dalam Indonesia memang sebenarnya masih tinggi. Fakta Kemenkes pada 2023 tercatat ada 76.449 tindakan hukum DBD dengan 571 perkara kematian mulai dari Januari-November. Jumlah yang disebutkan sebenarnya sudah pernah turun jika dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun 2022, dilaporkan ada 143.300 dengan 1.236 kematian. Grup umur dengan kematian tertinggi pada rentang usia 5-14 tahun.

Nyamuk wolbachia diharapkan mampu jadi solusi pengurangan persoalan hukum DBD tersebut. Pada prinsipnya, cara yang disebutkan memanfaatkan bakteri alami wolbachia yang tersebut sejumlah ditemukan pada 60 persen serangga. Bakteri itu selanjutnya dimasukkan pada nyamuk aedes aegypti, hingga menetas kemudian menghasilkan kembali nyamuk aedes aegypti dengan wolbachia.

Nyamuk aedes aegypti yang tersebut telah dilakukan terinfeksi wolbachia bukan dapat menularkan virus DBD untuk manusia. Sebab, perkembangan virus dengue yang disebutkan sudah pernah dihambat oleh bakteri wolbachia.

Selain Yogyakarta kemudian Bantul, Kementerian Aspek Kesehatan berencana untuk memperluas area penyebaran nyamuk Wolbachia dalam lima kota di dalam Indonesia. Di antaranya, Ibukota Barat, Bandung, Semarang, Bontang, juga Kupang.

Sumber : Suara.com

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *