Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Kesehatan

Studi: 2 Tahun Berturut-turut Zat Berbahaya Lingkungan Jabodetabek Terus Memburuk

2
×

Studi: 2 Tahun Berturut-turut Zat Berbahaya Lingkungan Jabodetabek Terus Memburuk

Sebarkan artikel ini
Studi: 2 Tahun Berturut-turut Zat Sangat Berbahaya Lingkungan Jabodetabek Terus Memburuk
Jaksel.id Pencemaran udara dalam Jabodetabek yang kian memburuk tidak sekadar klaim asal-asalan. Hal ini rupanya dibuktikan dengan segera oleh kelompok peneliti dari Kementerian Kesehatan.

Ketua Komite Penanggulangan Penyakit Respirasi dan juga Pengaruh Zat Berbahaya Udara, Kemenkes, Dr. Agus Dwi Susanto mengungkap selama 2 tahun polusi udara Ibukota Indonesia kemudian Bodebek masuk kategori buruk alias melebihi batas WHO.

Dijelaskan Dr. Agus berdasarkan data Organisasi Aspek Kesehatan Planet atau WHO, udara masuk kategori tiada sehat apabila AQI (indeks kualitas udara) berada di tempat hitungan 151 hingga 200. Sedangkan, udara sangat tidak ada sehat di area bilangan bulat 201 hingga 300.

“Jadi di 2 tahun terakhir di area Jabodetabek, tren polusi udara melebihi batas aman WHO,” ujar Dr. Agus pada acara Bicara Atmosfer di dalam Auditorium Wisma Barito Pacific II, Tomang, Jakarta, hari terakhir pekan (24/11/2023).

Ilustrasi polusi udara (Pexels.com/Natalie Dmay)
Ilustrasi polusi udara (Pexels.com/Natalie Dmay)

Ia juga menambahkan, kondisi ini diperparah dengan data pemantauan kualitas udara dalam Jabodetabek 14DMA, yang dimaksud menunjukan di tempat DKI Ibukota terjadi tren penyakit pernapasan di satu tahun terakhir.

“Penyakit pernapasan ini meliputi perkara infeksi saluran napas menghadapi atau ISPA di area DKI Jakarta,” papar Dr. Agus.

Fakta ini sesuai dengan penelitian pada RSUP Persahabatan 2019 terjadinya pertambahan penyakit asma pada Ibukota Indonesia pada usia remaja muda yakni 13 hingga 14 tahun. Ditemukan juga prevalensi asma dalam kota seperti Ibukota lebih besar tinggi melebihi desa.

“Jadi pada 2008 di dalam pedesaan jumlah keseluruhan prevalensi asma remaja dalam desa sekitar 7 persen, sedangkan pada Ibukota sebesar 12,2 persen juga salah faktornya penyulut asma yaitu polusi udara,” jelas Dr. Agus.

Di acara yang tersebut sama, Pakar Kesejahteraan dari Fakultas kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Frida Soesanti menjelaskan permasalahan polusi udara harus segera ditangani. Sebab, berdasarkan penelitiannya, kondisi PM 2.5 tahun 2023 melonjak naik sebanyak 12,5 kali dibandingkan beberapa tahun ke belakang sebanyak 8 kali.

“Paparan PM 2.5 meningkatkan resiko peningkatan tekanan darah pada bayi. Semakin tinggi paparan polusi, semakin rendah berat badan lahir dan juga semakin pendek panjang badan lahir bayi, maka bayi berisiko untuk terkena stunting. Bukannya kita jadi generasi emas, malah generasi cemas, we have to do something,” jelas dr. Frida.

Suasana Ibukota yang terlihat samar sebab polusi udara difoto dari menghadapi Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Selasa (25/7/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Suasana Ibukota Indonesia yang terlihat samar dikarenakan polusi udara difoto dari menghadapi Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Selasa (25/7/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Selain remaja, Dr. Agus Dwi Susanto menambahkan, ibu hamil dan juga anak merupakan salah satu kelompok yang tersebut sensitif terhadap polusi udara. Apalagi Perubahan fisik ibu hamil telah membuatnya rendah mengalami inflamasi, juga polusi udara mampu memperparah komplikasi seperti preeklampsia kemudian inflamasi intrauterin.

“Sedangkan saluran pernapasan pada anak-anak lebih lanjut kecil dan juga masih berkembang. Frekuensi napas yang dimaksud lebih tinggi cepat menghirup lebih besar banyak udara relatif terhadap tubuhnya berbeda dengan dewasa. Sistem kekebalan tubuh masih belum matang tambahan rentan terhadap infeksi saluran pernapasan,” imbuh Dr. Agus.

Di tempat yang digunakan identik Co-Founder Bicara Atmosfer Novita Natalia mengatakan, diskusi yang disebutkan menyoroti bagaimana polusi udara memiliki dampak negatif pada manusia khususnya meningkat kembang janin di tempat di kandungan, yang tersebut berpotensi menyebabkan stunting terhadap anak serta bagaimana kebijakan yang mana harus diambil untuk mengatasi permasalahan ini.

“Hasil dari paparan yang disebutkan kemudian ditanggapi oleh para pemangku kebijakan sehingga tercipta dialog yang mana sehat di forum antara peneliti kemudian pemangku kebijakan. Hal ini menjadi penting lantaran sinergitas antara kedua aktor yang disebutkan merupakan kunci untuk memproduksi sebuah kebijakan penanganan polusi udara yang tersebut efektif,” pungkas Novita.

Sumber : Suara.com

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *