Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Finansial

Mendorong Perubahan: Kritik Terhadap Kebijakan Pengendalian Tembakau WHO

1
×

Mendorong Perubahan: Kritik Terhadap Kebijakan Pengendalian Tembakau WHO

Sebarkan artikel ini
WHO Dituntut Adopsi Pendekatan Pengurangan Bahaya Tembakau

Pengantar

Dalam upaya menangani prevalensi perokok secara global, Organisasi Kesejahteraan Global (WHO) telah menetapkan kebijakan pengendalian tembakau. Namun, sejumlah pakar menyuarakan pandangan kritis terhadap pendekatan ini, menyoroti perlunya pembaharuan dalam memandang tembakau alternatif. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi perspektif para ahli terkait serta mencari solusi inovatif untuk mengurangi dampak buruk merokok.

Sentimen Negatif terhadap Tembakau Alternatif

Dalam diskusi virtual mengenai “Framework Convention on Tobacco Control, Challenges and Prospects for WHO,” WHO dianggap perlu membuka diri lebih luas terhadap tembakau alternatif. Pakar, seperti Profesor David Sweanor dari Universitas Ottawa, menyatakan bahwa kebijakan WHO saat ini didasari oleh sentimen negatif terhadap komoditas tembakau alternatif. Sayangnya, hal ini dianggap mengabaikan prinsip-prinsip kebugaran warga dan pendekatan pengurangan bahaya tembakau.

Tantangan terhadap Kebijakan WHO

Menurut David Sweanor, WHO seharusnya melibatkan diri dengan pendekatan yang telah terbukti berhasil, seperti yang dilakukan oleh Swedia, Norwegia, Inggris, Islandia, dan Jepang. Negara-negara ini berhasil menurunkan prevalensi merokok dengan memanfaatkan produk tembakau alternatif yang lebih rendah risikonya. Oleh karena itu, WHO seharusnya mempertimbangkan kebijakan baru yang mendukung penggunaan tembakau alternatif sebagai solusi efektif.

Inovasi dalam Pengendalian Tembakau

Profesor Riccardo Polosa, Pendiri CoEHAR, menggarisbawahi perlunya inovasi dalam kebijakan pengendalian tembakau. Menurutnya, kebijakan harus mengadopsi prinsip-prinsip kemampuan fisik dan menghormati hak asasi manusia. Penyakit yang berkaitan dengan merokok disebabkan oleh paparan senyawa kimia dari proses pembakaran rokok. Oleh karena itu, pendekatan pengurangan bahaya tembakau melalui tembakau alternatif lebih rendah risiko harus dipertimbangkan.

Pendekatan Berbasis Bukti

Riccardo Polosa menyarankan agar kebijakan pengendalian tembakau tidak hanya fokus pada berhenti merokok tetapi juga mempertimbangkan pendekatan berbasis bukti yang telah terbukti efektif. Negara-negara seperti Swedia, Norwegia, Inggris, Islandia, dan Jepang telah membuktikan bahwa penggunaan tembakau alternatif dapat mengurangi jumlah perokok secara signifikan.

Menyikapi Miskonsepsi terhadap Tembakau Alternatif

Ketua Asosiasi Customer Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, turut berbicara mengenai miskonsepsi terhadap tembakau alternatif. Ia menegaskan bahwa produk tembakau alternatif tidak memiliki risiko sebanding dengan rokok. Sebaliknya, produk ini menerapkan konsep pengurangan bahaya tembakau. Oleh karena itu, Paido mendorong regulasi yang tepat, informasi yang jelas, dan peran aktif pemerintah untuk mendukung peralihan perokok dewasa.

Kesimpulan

Dalam menghadapi masalah global merokok, perlu adanya pembaruan dalam kebijakan pengendalian tembakau. Kritik dari para ahli menekankan pentingnya mempertimbangkan tembakau alternatif sebagai solusi yang lebih rendah risiko. Sebuah pendekatan yang terbukti efektif dapat membantu mengurangi prevalensi merokok secara signifikan, membawa manfaat kesehatan global yang lebih besar.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *